Ada untaian nasihat penuh makna dari Hasan Al-Bashri yang mengibaratkan hidup ini hanya terdiri dari tiga hari: kemarin, yang tak akan pernah kembali; esok, yang belum tentu kita temui; dan hari ini, ruang tempat kita menabung amal dan harapan.
Hari-hari yang telah berlalu tak mungkin diulang, ia hanya tinggal sebagai kenangan. Namun, bukankah indah mengingat jejak-jejak waktu yang pernah kita lalui bersama orang-orang tercinta? Bahkan dari kenangan yang pahit, selalu terselip pelajaran dan hikmah yang menenangkan jiwa.
Dari sanalah blog sederhana ini lahir, sebuah ruang untuk merawat ingatan tentang masa-masa di rumah hijau di samping masjid, tempat kami hidup, tumbuh, dan belajar mencintai kehidupan bersama mereka yang kami sayangi.
Blog ini kupersembahkan sebagai warisan kecil untuk anak-anakku dan ponakan-ponakanku tercinta: Abang Lutfi, Kakak Ikal, Zidny Ilma (anakku satu-satunya) serta adik Kanza, Keiza, dan si kecil Abid. Semoga kelak, di antara jeda waktu mereka, mereka menemukan kembali serpihan cerita yang mungkin tak sempat terucap.
Meski bernama “Rumah Hijau Samping Masjid”, kisah-kisah di dalamnya bukan semata tentang bangunan atau tempat, melainkan tentang kehidupan orang-orang yang pernah mengisinya, tentang tawa, air mata, dan perjalanan yang membentuk siapa kami hari ini.
Melalui tulisan-tulisan ini, kuharap mereka dapat membayangkan bagaimana kehidupan di masa lalu, di masa ketika dunia belum dipenuhi internet, ketika gadget masih langka, dan anak-anak menghabiskan hari-harinya di luar rumah: berlari di lapangan, bermain bola, mengejar layang-layang, menyusuri sungai, dan menjelajahi sawah dengan hati yang bebas.
Seiring waktu, saat anak-anak tumbuh menjadi remaja, kebersamaan pun perlahan berkurang. Dunia mereka berubah, berbeda jauh dari dunia sederhana yang pernah kami jalani. Ada banyak cerita yang ingin kusampaikan, kisah-kisah indah masa kecil yang panjang dan hangat. Namun, waktu sering kali tak cukup untuk menuturkannya satu per satu.
Karena itulah, blog ini menjadi jembatan agar mereka dapat mengenal, memahami, dan mungkin merasakan kembali kehidupan di zaman yang berbeda. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dipetik nilainya, dijadikan pelajaran, dan disimpan sebagai hikmah dalam perjalanan hidup mereka kelak.
Semoga setiap kisah yang tertulis di sini dapat menjadi inspirasi atau setidaknya menjadi pengingat akan akar yang pernah menumbuhkan mereka.
Dan suatu hari nanti, di waktu yang lengang, ketika mereka membuka kembali halaman-halaman ini, semoga mereka menemukan bukan hanya cerita, tetapi juga jejak cinta, tentang keluarga, tentang asal-usul, tentang Opa dan Oma, serta kisah-kisah yang mungkin tak sempat mereka dengar secara langsung.
Inilah sekelumit pengantar dari blog ini, sebuah rumah kecil bagi kenangan, yang semoga selalu hidup, meski waktu terus berjalan.

No comments:
Post a Comment