Sunday, 29 March 2026

Bila Waktu Panen Kelapa Tiba

Ada masa kecil yang selalu pulang diam-diam, setiap kali angin membawa aroma tanah basah dan daun kelapa yang gugur. Masa itu sederhana, namun hangat. Ketika panen kelapa tiba, dan dunia terasa begitu luas untuk dijelajahi oleh kaki-kaki kecil kami.

Lebih-lebih saat musim panen beriringan dengan libur sekolah. Hari-hari seakan terbentang tanpa batas, dan kegembiraan hadir tanpa perlu dicari. Oma memiliki warisan pohon-pohon kelapa, tidak banyak jumlahnya, tetapi butuh sekitar 3 atau 4 hari utk memanennya. Uniknya pohon kelapanya tidak dalam satu hamparan yang sama. Mereka tumbuh berjauhan, tersebar di tanah-tanah yang terpisah, seakan mengundang kami untuk bertualang menuju ketempat perburuan.

Perjalanan menuju pohon-pohon itu bukan sekadar perjalanan; ia adalah petualangan. Kami menempuhnya dengan berjalan kaki atau menaiki gerobak kuda yang berderit pelan di atas jalan desa. Gerobak itu sederhana, disusun dari bambu-bambu yang diikat rapi, menjulang untuk menampung kelapa-kelapa hasil panen. Di atasnya, kami duduk sambil tertawa, membiarkan angin desa menyapu wajah, menyusuri jalan setapak yang meliuk di antara ladang dan semak.

Kuda yang lincah membawa kami memasuki lorong-lorong sempit yang hanya dikenal oleh mereka yang tinggal di sana. Setiap tikungan terasa seperti pintu menuju cerita baru. Dan kami, anak-anak yang belum mengenal lelah, menikmati setiap detik perjalanan itu dengan hati yang ringan.

Saat panen dimulai, suara kelapa jatuh dari ketinggian menjadi musik yang menggema di ladang. Kami berlarian memungutnya, kadang menggelinding jauh, tersesat di semak, atau bersembunyi di sela-sela sawah. Mencari kelapa-kelapa itu seperti permainan tanpa aturan, penuh tawa dan teriakan kecil yang riang.

Di sela-sela itu, kami selalu punya satu permintaan: kelapa muda. Dengan sabar kami menunggu pemanjat menjatuhkannya, lalu menikmatinya langsung di bawah pohon, airnya dingin, dagingnya lembut, seperti hadiah kecil dari alam.

Namun ada yang lebih kami nantikan tanpa perlu diminta "tombong" yaitu bakal tunas kelapa. Ia tersembunyi di dalam kelapa tua yang memang sudah saatnya dipanen, lembut seperti gabus, manis dengan rasa yang tak pernah bisa kami lupakan. Setiap kali menemukannya, rasanya seperti menemukan rahasia kecil yang hanya dimiliki masa kanak-kanak.

Hari-hari panen berlangsung beberapa waktu, mengikuti cuaca dan tenaga para pemanjat. Rumah kami pun berubah menjadi lebih hidup. Para pekerjanya adalah tetangga, kerabat, wajah-wajah yang membawa cerita dan tawa. Di sudut halaman, rumah asap berdiri "Porono" (tempat pengasaapan kelapa) mengeluarkan kepulan tipis yang menguap perlahan ke langit.

Di sanalah kami sering duduk, menemani para pekerja. Obrolan mengalir tanpa arah, penuh canda dan kisah-kisah yang membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan, hanya bisa dirasakan.

Namun seperti semua yang indah, masa itu pun berlalu.

Suatu hari, panen terakhir datang tanpa kami sadari sebagai yang terakhir. Pohon-pohon itu satu per satu hilang, sebagian dijual, sebagian ditebang. Tanah-tanah yang dulu kami jelajahi berubah menjadi pemukiman. Jalan-jalan setapak tergantikan oleh bangunan-bangunan baru.

Dan perlahan, rumah kembali sunyi.

Kini, tak ada lagi gerobak kuda yang membawa tawa kami. Tak ada lagi suara kelapa jatuh yang menggema di ladang. Tak ada lagi tombong yang kami cari dengan penuh rasa ingin tahu.

Yang tersisa hanyalah kenangan.... hangat, namun jauh.

Kadang, rasa rindu itu datang tanpa permisi. Rindu pada perjalanan sederhana yang dulu terasa seperti petualangan besar. Rindu pada kebersamaan yang tidak pernah kami sadari akan menjadi sesuatu yang begitu berharga.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang tetap kami syukuri: kami pernah hidup di dalam momen itu.

Dan mungkin, itulah sebabnya kenangan itu tak pernah benar-benar pergi.

Rumah Hijau Samping Masjid.

Selamat datang di blog nostalgia…

Ada untaian nasihat penuh makna dari Hasan Al-Bashri yang mengibaratkan hidup ini hanya terdiri dari tiga hari: kemarin, yang tak akan pernah kembali; esok, yang belum tentu kita temui; dan hari ini, ruang tempat kita menabung amal dan harapan.

Hari-hari yang telah berlalu tak mungkin diulang, ia hanya tinggal sebagai kenangan. Namun, bukankah indah mengingat jejak-jejak waktu yang pernah kita lalui bersama orang-orang tercinta? Bahkan dari kenangan yang pahit, selalu terselip pelajaran dan hikmah yang menenangkan jiwa.

Dari sanalah blog sederhana ini lahir, sebuah ruang untuk merawat ingatan tentang masa-masa di rumah hijau di samping masjid, tempat kami hidup, tumbuh, dan belajar mencintai kehidupan bersama mereka yang kami sayangi.

Blog ini kupersembahkan sebagai warisan kecil untuk anak-anakku dan ponakan-ponakanku tercinta: Abang Lutfi, Kakak Ikal, Zidny Ilma (anakku satu-satunya) serta adik Kanza, Keiza, dan si kecil Abid. Semoga kelak, di antara jeda waktu mereka, mereka menemukan kembali serpihan cerita yang mungkin tak sempat terucap.

Meski bernama “Rumah Hijau Samping Masjid”, kisah-kisah di dalamnya bukan semata tentang bangunan atau tempat, melainkan tentang kehidupan orang-orang yang pernah mengisinya tentang tawa, air mata, dan perjalanan yang membentuk siapa kami hari ini.

Melalui tulisan-tulisan ini, kuharap mereka dapat membayangkan bagaimana kehidupan di masa lalu di masa ketika dunia belum dipenuhi internet, ketika gadget masih langka, dan anak-anak menghabiskan hari-harinya di luar rumah: berlari di lapangan, bermain bola, mengejar layang-layang, menyusuri sungai, dan menjelajah sawah dengan hati yang bebas.

Seiring waktu, saat anak-anak tumbuh menjadi remaja, kebersamaan pun perlahan berkurang. Dunia mereka berubah, berbeda jauh dari dunia sederhana yang pernah kami jalani. Ada banyak cerita yang ingin kusampaikan, kisah-kisah indah masa kecil yang panjang dan hangat. Namun waktu seringkali tak cukup untuk menuturkannya satu per satu.

Karena itulah, blog ini menjadi jembatan agar mereka dapat mengenal, memahami, dan mungkin merasakan kembali kehidupan di zaman yang berbeda. Bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dipetik nilainya, dijadikan pelajaran, dan disimpan sebagai hikmah dalam perjalanan hidup mereka kelak.

Semoga setiap kisah yang tertulis di sini dapat menjadi inspirasi, atau setidaknya menjadi pengingat akan akar yang pernah menumbuhkan mereka.

Dan suatu hari nanti, di waktu yang lengang, ketika mereka membuka kembali halaman-halaman ini, semoga mereka menemukan bukan hanya cerita, tetapi juga jejak cinta, tentang keluarga, tentang asal-usul, tentang Opa dan Oma, serta kisah-kisah yang mungkin tak sempat mereka dengar secara langsung.

Inilah sekelumit pengantar dari blog ini, sebuah rumah kecil bagi kenangan, yang semoga selalu hidup, meski waktu terus berjalan.